@irwan_hernanda
Bapak… Ibu …
Orang-orang melihatmu hari ini membaca dengan lancar. Tajwidmu rapi. Nafasmu terjaga. Ayat-ayat mengalir tanpa ragu. Mereka mungkin berkata, “Masyaa Allah, cepat sekali bisa.”
Namun mereka tidak melihat empat tahun sebelumnya.
Mereka tidak melihat ketika sepuluh menit hanya cukup untuk setengah halaman.
Ketika satu ayat harus diulang berkali-kali.
Ketika lidah masih kaku dan rasa percaya diri belum tumbuh.
Huruf-huruf terasa asing, lidahnya kaku, napasnya terputus-putus.
Setiap makhraj diperbaiki, setiap panjang pendek ditegur.
Mereka tidak melihat proses itu.
Lalu hari demi hari berlalu.
Setengah halaman menjadi satu.
Satu halaman menjadi dua.
Sepuluh menit yang dulu terasa sempit kini terasa lapang.
Yang dulu terbata-bata kini mengalir.
Begitulah cara Allah menumbuhkan manusia.
Kita sering terpesona pada cahaya bintang di langit malam, padahal cahaya itu telah menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke mata kita. Apa yang tampak indah hari ini sesungguhnya adalah hasil dari perjalanan yang tidak singkat.
Demikian pula dirimu.
Kelancaranmu hari ini adalah cahaya dari kesabaran kemarin.
Khatammu hari ini adalah buah dari ketekunan yang mungkin hanya kau dan Allah yang tahu.
Hidup memang bergerak dari satu tingkatan ke tingkatan lain. Tidak ada yang langsung mahir. Tidak ada yang tiba-tiba sampai. Semua bertahap. Semua berproses. Naik perlahan, kadang tanpa terasa, kadang dengan lelah yang nyata.
Sebagaimana Allah mengingatkan bahwa hidup ini bergerak dari satu tingkatan ke tingkatan lain.
“Sungguh, kamu benar-benar akan melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS. Al-Insyiqaq, 84: 19)
Sebagai murid, kau belajar bersabar pada dirimu sendiri pada rasa jenuh, pada salah yang berulang, pada ego yang ingin cepat bisa. Kau belajar bahwa kemampuan bukan soal bakat semata, tetapi soal kesetiaan pada proses.
Sebagai guru, aku pun belajar bersabar. Sabar menunggu, sabar membimbing, sabar mencari cara terbaik agar engkau mampu dan paham. Aku memikirkan metode, menimbang pendekatan, dan memahami karakter.
Kesabaran guru mengandung kasih, harapan, dan tanggung jawab. Ia memiliki lapisan tambahan daripada kesabaran muridnya. Sabar seorang guru bukan sekadar menanti muridnya bisa, tetapi menyiapkan ruang agar muridnya tumbuh.
Sabar murid adalah sabar untuk bertumbuh.
Sabar guru adalah sabar untuk menumbuhkan.
Maka berbahagialah mereka yang khatam Al-Qur’an di hadapan guru ngajinya. Bukan semata karena selesai tiga puluh juz, tetapi karena telah menempuh perjalanan panjang kesabaran. Khatam itu bukan garis akhir, melainkan tanda bahwa seseorang pernah setia pada prosesnya.
Kita semua mungkin sedang berada di fase “setengah halaman”. Masih belajar merespons panggilan Allah. Masih tertatih dalam memperbaiki diri. Masih sering dibentuk dan dipengaruhi oleh keadaan.
Namun jangan kecil hati. Bisa jadi, beberapa tahun dari sekarang, orang lain melihat kita dan berkata, “Hebat sekali perjalanannya,” tanpa pernah tahu betapa panjang dan sunyinya proses yang kita lewati.
Sebab hidup bukan tentang cepat sampai, melainkan tentang setia bertumbuh.
Buat muridku yang khatam,
Jangan bangga karena sudah sampai. Bersyukurlah karena pernah bertahan.
Karena yang membuatmu sampai hari ini bukan semata kemampuanmu
tetapi kesetiaanmu pada proses yang panjang.
_“Ilmu tidak akan memberikan sebagian dirinya kepadamu sampai engkau memberikan seluruh dirimu kepadanya.”_ (Imam Al Ghazali)
Engkau telah memberikan waktumu. Kesabaranmu. Ketekunanmu.
Maka hari ini, ilmu itu pun memberimu bagiannya. Bukan hanya kelancaran bacaan, tetapi kedewasaan jiwa.
Dan setiap huruf yang dulu terbata-bata, kelak akan menjadi saksi bahwa kamu pernah memilih untuk tidak menyerah.
Depok, 26 Pebruari 2026 /09 Ramadan 1447H
@pengajianalif @prm.abadijaya @kmmdkotadepok
#alQuran #khatamalquran #belajaralquran #belajarngaji #fyi

Tinggalkan Balasan