@irwan_hernanda
Sepuluh malam terakhir Ramadan selalu datang dengan rasa yang berbeda. Ada harap yang menguat, ada sunyi yang memanggil, tetapi juga ada sedih yang diam-diam menyelinap.
Satu per satu pengajian yang biasa saya isi harus bertawakkuf sementara. Majelis yang selama ini dipenuhi wajah-wajah akrab, tawa kecil, dan percakapan setelah kajian, kini harus berhenti sejenak. Ada rasa kehilangan dalam jeda itu. Namun Ramadan mengajarkan bahwa tidak semua yang kita cintai harus selalu kita genggam.
Kadang kita harus melepaskannya agar hati belajar kembali kepada yang lebih layak dicintai.
“Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu), sedang kamu beri‘tikaf di masjid.” (QS. Al-Baqarah, 2: 187)
Ayat itu sederhana, tetapi ia membuka sebuah dunia batin yang luas. I’tikaf adalah keputusan untuk mundur sejenak dari hiruk kehidupan bukan karena membenci dunia, tetapi karena ingin menata kembali arah hati.
Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah meninggalkan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
“Nabi ﷺ beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di situlah manusia belajar satu pelajaran yang jarang diajarkan oleh dunia: melepaskan keterikatan pada manusia untuk kembali terikat kepada Allah.
Selama i’tikaf, saya hampir tidak bertemu lagi dengan saudara-saudara yang biasa dikenal. Yang ada justru wajah-wajah baru. Orang-orang yang datang dari berbagai tempat, dengan kisah hidup yang tidak kita ketahui, tetapi dengan satu niat yang sama: mencari Allah di malam-malam Ramadan.
Kami berkumpul di tempat yang sama – masjid – tetapi masing-masing tenggelam dalam kesendiriannya. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada perkenalan. Setiap orang sibuk dengan mushafnya, dengan dzikirnya, dengan air matanya sendiri.
Ironisnya, di sanalah justru terasa persaudaraan yang paling jujur.
Kesendirian yang lahir di tengah kebersamaan.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali pernah menulis:
“Hakikat i’tikaf adalah memutus hubungan hati dari makhluk dan menyambungkannya sepenuhnya kepada Sang Pencipta.” (Lathaif al-Ma‘arif)
Barangkali itulah sebabnya i’tikaf tidak pernah benar-benar bisa menjadi ibadah kolektif yang terikat oleh kelompok tertentu. Ia terlalu pribadi untuk diseragamkan.
Setiap orang memilih masjidnya sendiri. Setiap orang menata malamnya sendiri. Setiap orang berbicara kepada Tuhannya dengan bahasa yang hanya ia dan Allah yang memahaminya.
Di tengah suasana itu, kita belajar sesuatu yang sederhana namun berat: hidup selalu berubah, dan manusia harus belajar menyesuaikan diri.
Kebersamaan yang kita miliki hari ini bisa saja menghilang esok hari. Orang-orang yang biasa kita temui mungkin suatu saat tak lagi berada di sekitar kita. Dunia tidak pernah berhenti bergerak.
Jika hati terlalu kaku, ia akan tertinggal. Jika jiwa terlalu terikat, ia akan terluka.
Karena itu seorang muslim harus peka sekaligus dinamis; mampu membaca perubahan dan menemukan jalan baru untuk tetap berjalan menuju Allah.
I’tikaf mungkin tampak seperti ibadah sunyi di sudut masjid, tetapi di dalamnya tersembunyi pelajaran hidup yang luas.
Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kegembiraan lahiriah yang ramai, melainkan ketenangan batin yang hening.
Imam Al-Ghazali pernah berkata:
“Kebahagiaan hati hanya ditemukan dalam mengenal Allah dan dekat dengan-Nya.”
Di sanalah manusia kembali kepada fitrahnya: sebagai hamba yang mencintai kebenaran, kejujuran, dan keadilan.
Namun pengalaman seperti ini tidak selalu mudah dijelaskan.
Ada rasa yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata, terutama bagi mereka yang tidak pernah merasakan Ramadan dengan sepenuh hati, apalagi menutupnya dengan i’tikaf.
Karena sebagian perjalanan ruhani memang tidak untuk diceritakan.
Ia hanya bisa dialami.
Depok, 15 Maret 2026 / 26 Ramadan 1447H
@pengajianalif @prm.abadijaya @kmmdkotadepok
#itikaf #sepuluhmalamterakhir #ramadan #lalilatulqadr #renunganislami
Tinggalkan Balasan