@irwan_hernanda
Tampilkan Pos(buka di tab baru)
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dawam (kontinu), walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadan telah berlalu. Hari kemenangan kita rayakan dengan takbir yang menggema, dengan sujud syukur yang mengalirkan harap dan haru. Kita bergembira karena telah menunaikan serangkaian ibadah: puasa, qiyamul lail, tilawah, sedekah dan zakat. Namun di balik kegembiraan itu, ada satu rasa yang diam-diam menyelinap dalam hati: kesedihan.
Kesedihan karena Ramadan pergi.
Kesedihan karena kebersamaan itu ternyata sementara.
Kita sadar, bulan yang penuh kemudahan dalam beribadah itu telah usai. Meski demikian, kita tidak pernah kehilangan pintu ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Allah tetap Maha Penerima taubat, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya saja, jalan menuju-Nya mungkin tidak lagi terasa semudah saat Ramadan.
Di bulan itu, segalanya terasa lebih ringan. Malam-malam dihidupkan dengan shalat tarawih, siang hari dipenuhi dengan kesabaran menahan hawa nafsu, lisan lebih terjaga, dan kebaikan mengalir tanpa banyak ragu. Seakan-akan pintu langit terbuka lebar, dan rahmat Allah turun tanpa batas.
Namun, hati kita kembali diteguhkan oleh firman-Nya:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar [39]: 53)
Ayat ini menjadi penawar sekaligus pengingat: harapan itu tidak pernah tertutup. Yang menjadi persoalan bukanlah perginya Ramadan, melainkan apakah semangat yang tumbuh di dalamnya ikut pergi bersama waktu.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara kontinu, walaupun sedikit. Di sinilah letak ujian sesungguhnya: istiqamah. Ia tidak segegap gempita semangat di awal, tetapi sunyi, konsisten, dan sering kali terasa berat.
Maka, pasca Ramadan, jangan biarkan kebiasaan baik itu perlahan menghilang. Jangan tinggalkan Al-Qur’an yang dulu begitu dekat di hati. Jangan lalai dari shalat yang dulu begitu terjaga. Jangan berhenti dari sedekah yang dulu terasa ringan untuk dilakukan.
Ingatlah, salah satu tanda diterimanya amal adalah hadirnya amal kebaikan berikutnya. Kebaikan yang melahirkan kebaikan lain adalah isyarat bahwa hati masih terjaga.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengibaratkan hati seperti api yang harus terus diberi bahan bakar. Jika tidak, ia akan padam tanpa kita sadari. Maka jagalah nyala itu, meski kecil asal tetap hidup.
Akhirnya, kita menyadari bahwa menjaga itu memang lebih sulit daripada memulai. Namun justru di situlah letak nilai sebuah keimanan pada keteguhan yang tidak bergantung pada suasana.
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali berkata:
”Jadilah hamba Rabbani, bukan hamba Ramadhani.”
Depok, Ahad, 22 Maret 2026 / 03 Syawwal 1447 H
@pengajianalif, @prm.abadijaya @kmmdkotadepok
#pascaramadan #istiqomah #renunganislami #syawwalbulanpeningkatan #fyi
Tinggalkan Balasan