Di Balik Teriakan “Ya Allah” di Ruang Game

@irwan_hernanda

“Ya Allah… ya Allah… astaghfirullah!”

“Apaan sih, lu bawa-bawa nama Allah di sini? Risih gue dengernya!” teriak seorang remaja dari bangku sebelah.

Malik menoleh, tetap memegang stik permainan.

“Maaf kalau bikin lu nggak nyaman.”

“Ya jangan nyebut nama Allah di tempat game begini. Nggak pantes.”

Malik tersenyum tipis.

“Ini kan ruang umum. Semua orang bebas berekspresi, kan?”

“Maksudnya?”

“Lu nyaman bilang ‘anjir’, ‘anjay’, atau yang lain. Gue nggak nyaman ngomong begitu. Jadi gue pilih bilang ‘Ya Allah’. Buat gue itu lebih aman di hati.”

Temannya terdiam.

Malik menambahkan pelan,

“Kalau kata-kata kasar nggak masalah di sini, kenapa nama Allah justru dianggap gangguan?”

Sunyi sesaat.
Bukan karena Malik menang debat.
Tapi karena kalimat itu mengetuk sesuatu yang tak terlihat.

Apalagi ini bulan Ramadan.

Malik hanyalah remaja biasa. Ia suka game, tertawa keras bersama teman-temannya, menikmati kompetisi dan adrenalin. Ia tidak hidup di menara gading yang steril dari dunia pergaulan.

Namun ada satu hal yang tidak pernah ia tinggalkan: shalat.

Suatu sore, di tengah pertandingan yang sedang sengit, Malik menekan tombol pause.

“Mau ke mana?” tanya teman tandingnya.

“Shalat dulu.”

“Di luar ya…. Jangan di sini.”

Malik menghela napas ringan.

“Gue ke sini aja mesti waiting list. Tempat ini penuh terus. Gue shalat bentar ya.”

Tanpa banyak bicara, ia mencari sudut ruangan dan mulai shalat. Di depan layar yang masih menyala. Di tengah suara game yang belum sepenuhnya senyap.

Sebagian teman mencibir. Sebagian lagi hanya memandang heran.

Selesai shalat, salah satu dari mereka berkata menantang,

“Kalau lu menang, gue mau hsalat dan lu ajarin gue. Tapi kalau gue yang menang, lu jangan salat di sini lagi.”

Malik menerima.

Pertandingan berlangsung seru. Sorakan memenuhi ruangan. Semua mata tertuju pada layar.

Dan akhirnya, Malik menang.

Janji adalah janji.

Sore itu mereka pergi ke masjid. Malik mengajarkan wudu, gerakan, dan bacaan salat perlahan-lahan. Temannya terlihat canggung, beberapa kali salah, tapi tidak menyerah.

Setelah selesai, ia berkata pelan, hampir seperti pengakuan,

“Seumur hidup gue belum pernah diajarin shalat sama ayah gue. Ayah gue sendiri nggak pernah shalat.”

Kalimat itu terasa lebih keras daripada semua teriakan di ruang game tadi.

Hari-hari Ramadan berlalu.

Beberapa waktu kemudian, Malik kembali ke masjid untuk shalat Magrib. Ia terkejut melihat sosok yang familiar berdiri di shaf belakang. Temannya itu.

“Lu puasa?” tanya Malik setelah salam.

“Iya,” jawabnya singkat. Lalu tersenyum kecil. “Masa lu doang.”

Sejak hari itu, ia mulai ikut ke masjid. Masih belajar. Masih terbata-bata. Tapi melangkah.

Ternyata, perubahan tidak selalu dimulai dari ceramah panjang. Kadang ia tumbuh dari keberanian kecil seorang remaja yang tidak malu menyebut nama Tuhannya di ruang game.

Di luar sana, banyak orang dewasa gelisah melihat dunia remaja hari ini. Bahasa mereka kasar. Waktu mereka habis untuk layar. Pergaulan terasa liar.

Namun mungkin kita perlu bertanya lebih jujur:

Sudahkah rumah menjadi tempat pertama mereka belajar iman?

Anak tidak lahir membawa kebiasaan buruk. Mereka belajar dari apa yang dilihat setiap hari.

Jika ayah tak pernah terlihat salat, bagaimana anak merasa salat itu penting?
Jika ibu jarang terdengar berdoa, bagaimana anak akrab dengan nama Tuhannya?

Remaja seperti Malik bukan tanpa godaan. Ia tetap bermain, tetap bergaul. Bedanya, ia membawa nilai ke dalam dunianya bukan meninggalkan nilai demi diterima lingkungan.

Dan justru dari situlah satu hati mulai berubah.

Barangkali tugas kita sebagai orang tua bukan mematikan dunia mereka. Melainkan hadir di dalamnya. Mendampingi. Memberi teladan. Menjadi contoh yang hidup.

Karena bisa jadi, di balik teriakan “Ya Allah” di ruang game, ada jiwa yang sedang berjuang agar tidak sepenuhnya lepas dari Tuhannya.

Dan mungkin… ada jiwa lain yang diam-diam menunggu untuk diajak pulang.

Depok, 24 Pebruari 2026 / 07 Ramadan 1447H

@pengajianalif @prm.abadijaya @kmmdkotadepok

#remajaislam #pergaualanremaja #ramadan #puasa #dampakgame #fyp

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *