@irwan_hernanda
Ceramah sering kali hanya tinggal ceramah.
Apakah ia benar-benar menjadi masukan bagi seseorang; menjadi motivasi, inspirasi, atau setidaknya bahan introspeksi, kita tidak pernah benar-benar mengetahui. Tugas pendakwah hanyalah menyampaikan. Setelah itu, pengamalan sepenuhnya dikembalikan kepada para pendengar, kepada jamaah yang menerima atau menolak dengan hati masing-masing.
Di mimbar-mimbar, ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dengan begitu indah. Sabda-sabda Nabi disampaikan dengan penuh semangat, mengandung pesan yang menggugah jiwa dan menguatkan harapan. Ayat-ayat itu sesungguhnya adalah kehidupan; sabda-sabda itu adalah cahaya. Ia datang untuk menghidupkan hati yang kering dan membangunkan jiwa yang hampir mati.
Namun kenyataannya, tidak semua hati tergerak.
Barangkali pesan itu hanya benar-benar sampai kepada mereka yang memang ingin mendengar; yang bersedia berubah. Sedangkan bagi yang tidak ingin berubah, ceramah-ceramah itu tidak lebih dari sekadar kalimat-kalimat promosi. Seperti iklan yang lewat di telinga: terdengar, tetapi tidak pernah masuk ke dalam kesadaran.
Ironisnya, yang ditawarkan dalam “promosi” ini bukanlah barang manusia. Ia adalah janji dari Allah Azza wa jalla.
Tetapi sebagian manusia justru lebih tertarik pada “barang” dari sesamanya: sesuatu yang bisa dilihat dengan mata, dirasakan dengan indra, dan dimiliki dengan segera. Sesuatu yang konkret, yang cepat memuaskan kebutuhan biologisnya.
Di sinilah letak persoalannya.
Ketika manusia masih hidup sepenuhnya pada level biologis – pada kebutuhan makan, kenyamanan, dan kenikmatan inderawi – maka pesan-pesan spiritual hampir mustahil menembus dirinya. Ia seperti mencoba menjelaskan keindahan langit kepada seseorang yang sepanjang hidupnya hanya menunduk ke tanah.
Spiritualitas tidak akan masuk ke dalam jiwa yang seluruh orientasinya hanya pada pemenuhan fisik.
Karena itu, manusia yang memaknai kebahagiaan semata-mata sebagai penambahan – lebih banyak harta, lebih banyak kesenangan, lebih banyak kepemilikan – akan sulit menerima satu kebenaran spiritual yang sederhana:
bahwa kebahagiaan juga bisa hadir melalui pengurangan.
Mengurangi tidur demi munajat.
Mengurangi makan demi puasa.
Mengurangi kesibukan dunia demi keheningan bersama Tuhan.
Inilah yang sebenarnya sedang kita bicarakan ketika Ramadhan mencapai sepuluh malam terakhirnya.
Malam-malam yang dijanjikan membawa perubahan.
Malam-malam yang disebut penuh ketenangan.
Malam-malam yang oleh Nabi ﷺ dipenuhi dengan i’tikaf, doa, dan penghambaan.
Namun bagi mereka yang masih terperangkap dalam kebutuhan biologis, sepuluh malam terakhir itu tidak memiliki makna apa-apa selain berkurangnya waktu tidur.
Allah sebenarnya sedang mengundang manusia untuk naik kelas. Ramadhan adalah semacam “kuliah kemanusiaan” yang diselenggarakan langsung oleh Tuhan, Rabbul ‘Alaamin. Puasa, tarawih, tilawah, sedekah – semuanya – adalah kurikulum untuk menaikkan manusia dari sekadar makhluk biologis menjadi makhluk spiritual.
Tetapi kenyataannya, tidak semua manusia hadir di ruang kuliah itu.
Buktinya sederhana: berapa banyak orang yang benar-benar menghidupkan sepuluh malam terakhir dengan i’tikaf? Berapa banyak yang rela tinggal semalaman di masjid, meninggalkan kasur yang empuk dan kenyamanan rumah?
Jumlahnya selalu sedikit.
Hanya segelintir orang yang benar-benar yakin pada janji-janji Allah dan sabda-sabda Nabi. Hanya mereka yang percaya bahwa mengendalikan diri adalah jalan untuk mengendalikan dunia. Bahwa manusia seharusnya menjadi pemimpin bagi kehidupannya sendiri bukan menjadi budak bagi hawa nafsunya.
Karena itu perubahan selalu terasa sulit.
Dan memang perubahan tidak pernah lahir dari luar. Ia tidak lahir dari ceramah yang panjang, dari suara yang lantang, atau dari kata-kata yang indah. Perubahan hanya lahir dari dalam jiwa seseorang: dari kemauan yang tulus, dari tekad yang kuat, dan dari keyakinan yang hidup terhadap firman-firman Tuhan dan sabda-sabda Nabi-Nya.
Ceramah hanya mengetuk pintu.
Tetapi yang membuka pintu itu tetaplah hati manusia sendiri.
@pengajianalif @prm.abadijaya @kmmdkotadepok
#itikaf #10malamterkahir #renunganramadan #fyi

Tinggalkan Balasan