@irwan_hernanda
Akhir-akhir ini saya sering gelisah. Bukan karena kurang informasi justru karena terlalu banyak. Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa berbicara, tapi tidak semua orang sempat berpikir. Manusia semakin cepat merespons, tetapi semakin jarang merenung.
Media sosial membuat segalanya serba cepat. Berita muncul detik ini, komentar menyusul detik berikutnya. Ada peristiwa, langsung ada penilaian. Ada perbedaan pendapat, langsung ada serangan. Seolah-olah siapa yang paling cepat merespons, dialah yang paling cerdas dan paling berani. Padahal belum tentu.
Dalam suasana seperti ini, daya pikir yang jernih dan rasa ikhlas perlahan bisa tergerus. Reliansi pada nilai-nilai kebenaran dan kejujuran pun goyah, sebab yang lebih diutamakan sering kaliadalah sensasi, validasi, dan pengakuan.
Algoritma media sosial memang “menyukai” emosi. Konten yang marah, menyulut, atau provokatif biasanya menyebar lebih cepat daripada yang tenang dan bijak. Tanpa sadar, kita ikut terbawa arus itu. Kita terdorong untuk ikut bersuara kadang bukan karena perlu, tapi karena tidak ingin tertinggal.
Lalu jeda itu hilang. Padahal dalam Islam, jeda justru diajarkan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al Hujurat, 49:6)
Ayat ini mengajarkan verifikasi sebelum respons. Sebuah prinsip yang sangat kontekstual dengan budaya “saring sebelum sharing” di media sosial. Islam menuntun umatnya agar tidak terjebak pada prasangka dan reaksi spontan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Lebih jauh lagi, Allah juga memperingatkan:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isrā, 17’: 36)
Ayat ini menegaskan akuntabilitas batin dan intelektual. Bahkan apa yang kita dengar dan baca di layar akan dimintai pertanggungjawaban.
Nabi ﷺ pun mengingatkan tentang bahaya mengikuti setiap informasi tanpa saring:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, Shahih)
Pesannya jelas: tidak semua yang kita dengar harus kita sebarkan. Tidak semua yang kita tahu harus kita komentari.
Namun budaya digital sering menghapus jeda itu. Kita terdorong untuk menjadi yang pertama berkomentar. Di sinilah saya melihat relevansi puasa terutama di bulan Ramadan dengan budaya digital kita hari ini.
Puasa itu latihan jeda.
Ketika kita lapar, kita ingin makan tapi kita tahan.
Ketika kita haus, kita ingin minum tapi kita tunggu.
Di situ sebenarnya kita sedang melatih satu kemampuan penting: memberi ruang antara dorongan dan tindakan.
Dalam psikologi modern, itu disebut self-regulation; kemampuan mengelola impuls sebelum bertindak. Tanpa kemampuan ini, manusia mudah dikuasai emosi. Dengan kemampuan ini, manusia menjadi matang.
Sekarang bayangkan jika latihan itu kita bawa ke dunia digital.
Saat membaca berita yang memancing emosi… jeda.
Saat melihat unggahan yang tidak kita setujui… jeda.
Saat ingin membalas komentar dengan nada tinggi… jeda.
Mungkin cukup tarik napas.
Mungkin cukup baca ulang.
Mungkin cukup tanya pada diri sendiri: Perlu tidak saya posting ini? Bermanfaat tidak? Atau hanya pelampiasan?
Zikir pun mengajarkan hal yang sama. Dua kalimat ringan di lisan Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim mengajarkan kita membersihkan prasangka dan menumbuhkan syukur. Tasbih membersihkan pikiran dari kecurigaan yang berlebihan. Tahmid menanamkan perspektif positif.
Bayangkan jika respons pertama kita terhadap sebuah peristiwa bukan kemarahan, tetapi tasbih. Bukan caci maki, tetapi kesadaran bahwa kita tidak selalu tahu seluruh cerita.
Di dunia yang bising, puasa mengajarkan ketenangan.
Di dunia yang serba cepat, puasa mengajarkan perlambatan.
Di dunia yang gemar menyalahkan, puasa mengajarkan introspeksi.
Kita tidak bisa menghentikan arus informasi. Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain tulis. Tapi kita selalu bisa mengontrol apa yang kita posting.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari “detoks digital”.
Bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial.
Bukan berarti teknologi itu buruk.
Yang perlu dijaga adalah hati ketika jari bergerak.
Yang perlu dirawat adalah niat ketika kita menulis.
Tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan.
Tidak semua yang kita rasakan harus diluapkan.
Tidak semua yang kita lihat harus dikomentari.
Kadang, yang paling bijak adalah menahan.
Karena dalam menahan itu, pikiran dijernihkan.
Dalam jeda itu, hati disucikan.
Dan dari ketenangan itulah lahir respons yang lebih adil, lebih matang, dan lebih manusiawi. Mungkin sebelum kita menekan tombol “post”, kita hanya perlu satu hal sederhana: Pause.
Penutup
Hubungan antara media sosial dan puasa menjadi sangat jelas.
Media sosial mendorong kecepatan, puasa mengajarkan ketenangan.
Media sosial memancing reaksi emosional, puasa melatih respons spiritual.
Media sosial sering menumbuhkan budaya saling menyalahkan, puasa membangun empati dan pengendalian diri.
Puasa mengajarkan kita bahwa kedewasaan bukan terletak pada cepatnya kita merespons, tetapi pada dalamnya kita memahami.
Depok, 26 Februari 2026 /09 Ramadan 1447 H
@pengajianalif @prm.abadijaya @kmmdkotadepok
#ramadan #sosialmedia #dampaksosmed #puasadansosmed #fyi
Tinggalkan Balasan