@irwan_hernanda
Ramadan selalu menghadirkan ruang-ruang perenungan yang lebih dalam. Salah satunya saya rasakan sore ini di Masjid Amal Muhammadiyah, Tirtajaya, Depok, dalam sebuah daurah bertema “Logika Formal dan Informal dalam Al-Qur’an.”
Pematerinya, Ust. Nur Fajri Romadhan, Lc. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari berturut-turut menjelang waktu berbuka. Sayangnya, saya hanya bisa mengikuti hari kedua.
Belum lama duduk, saya sudah dikejutkan oleh sebuah pernyataan: kebenaran harus diakui, siapa pun yang mengucapkannya — bahkan jika keluar dari lisan musuh, orang yang kita benci, atau setan sekalipun.
Pemateri mencontohkan riwayat Abu Hurairah tentang setan yang mengajarkan Ayat Kursi. Rasulullah ﷺ membenarkan ucapan setan itu dengan sabdanya:
صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ
“Ia berkata benar kepadamu, padahal ia pendusta.” (HR. Bukhari no. 2311)
Beliau juga menguatkan dengan sebuah hikmah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib:
“Perhatikan apa yang diucapkan, jangan melihat siapa yang mengucapkan.”
Dari situ, pembahasan berkembang pada satu gagasan penting: kesalahan berpikir akan melahirkan perilaku buruk, dan perilaku buruk mencerminkan isi pikiran manusia.
Tema ini terasa sangat relevan di zaman yang penuh opini, prasangka, dan reaksi cepat tanpa tabayyun.
Manusia bertindak sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Pikiran membentuk cara pandang. Cara pandang membentuk sikap. Sikap melahirkan perilaku.
Jika pola pikir dipenuhi prasangka, asumsi keliru, dan kesalahan logika, maka perilaku pun akan menyimpang — dari perpecahan kecil hingga konflik besar.
Prasangka adalah contoh nyata kesalahan berpikir. Ia muncul tanpa data yang cukup dan tanpa klarifikasi. Dalam logika, ini termasuk bentuk logical fallacy, seperti generalisasi berlebihan (hasty generalization), menyerang pribadi alih-alih argumen (ad hominem), memelintir argumen lawan (strawman), menyederhanakan masalah seolah hanya ada dua pilihan (false dilemma), atau menganggap benar hanya karena diucapkan tokoh tertentu (appeal to authority).
Ketika kesalahan logika menjadi kebiasaan, ia tidak lagi sekadar kekeliruan intelektual, tetapi berubah menjadi kerusakan moral.
Al-Qur’an berulang kali menyeru: “afalā ta‘qilūn” (tidakkah kalian berpikir) dan “afalā tatafakkarūn” (tidakkah kalian merenung). Ini menunjukkan bahwa iman dan akal bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Yang berbahaya bukan rasionalitas, tetapi rasionalisasi — membenarkan yang salah dengan logika yang dipaksakan.
Kesalahan berpikir tidak berhenti pada level pribadi. Ia menjalar ke ruang sosial. Pikiran yang penuh kecurigaan melahirkan sikap defensif. Sikap defensif melahirkan jarak. Jarak melahirkan konflik.
Karena itu, perubahan sosial dalam Islam selalu dimulai dari perubahan internal:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)
Yang ada pada diri itu bukan hanya perilaku lahiriah, tetapi juga cara berpikir dan kondisi hati.
Daurah sore itu meninggalkan satu refleksi: menjaga pikiran sama pentingnya dengan menjaga lisan dan perbuatan. Pikiran adalah pintu pertama. Jika pintu itu dijaga dengan logika yang benar, informasi yang tervalidasi, dan niat yang lurus, maka hati akan tetap sehat.
Sebaliknya, jika pikiran dipenuhi prasangka dan kesalahan logika, perlahan hati akan mengeras, dan hubungan antarmanusia pun retak.
Ramadan bukan hanya bulan menahan lapar. Ia juga bulan melatih disiplin berpikir — jernih, adil, dan bertanggung jawab. Sebab dari pikiranlah lahir peradaban, dan dari pikiran pula bisa lahir kehancuran.
Depok, 02 Maret 2026 / 13 Ramadan 1447H
@pengajianalif, @prm.abadijaya @kmmdkotadepok
#logika #logikaformal #logikainformal #alquran #kajianramadan #fyi

Tinggalkan Balasan