Upgrade Terus Kualitas Bacaan Anda
Jujur, cara baca teman-teman ngaji kita mungkin belum maksimal. Kita belum sepenuhnya menjadikan Al-Qur’an sebagai media healing dan relaksasi;
WARTA MAJELIS
@irwan_hernanda
9/17/20262 min read


Jujur, cara baca teman-teman ngaji kita mungkin belum maksimal. Kita belum sepenuhnya menjadikan Al-Qur’an sebagai media healing dan relaksasi; bacaan yang membuat pikiran lebih tenang, hati lebih lapang, dan jiwa kembali segar.
Ini baru soal cara membaca, belum lagi soal cara mendalami.
Membaca Al-Qur’an tentu berpahala. Tetapi bila dibaca dengan tartil: perlahan, jelas, tidak tergesa-gesa, diresapi dan dihayati, ia juga dapat menghadirkan ketenangan dan kelembutan hati. Allah berfirman:
«وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”
(QS. Al-Muzzammil: 4)
Para mufasir menjelaskan bahwa tartil bukan sekadar memperlambat bacaan, tetapi membaca dengan jelas, tenang dan tidak tergesa-gesa sehingga lebih memungkinkan untuk memahami dan mentadabburi maknanya.
Lalu bagaimana dengan one day one juz?
Tidak ada yang salah dengan banyak membaca. Tetapi banyaknya halaman yang selesai dibaca bukan satu-satunya ukuran cinta seseorang kepada Al-Qur’an. Khatam adalah sesuatu yang baik, tetapi cinta kepada Al-Qur’an tidak cukup diukur dari seberapa cepat seseorang menyelesaikannya.
Cinta kepada Al-Qur’an juga tampak dari bagaimana seseorang:
membacanya dengan tartil, memahami dengan benar, menghayati pesan dan hakikatnya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Allah menyebut Al-Qur’an sebagai syifā’ dan rahmat bagi orang-orang beriman:
«وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82)
Bahkan ketika Al-Qur’an didengar dan dipahami dengan benar, Allah menggambarkan dampaknya pada jiwa: kulit merinding, kemudian kulit dan hati menjadi lembut karena mengingat Allah. (QS. Az-Zumar: 23)
Yang kedua: membaca bersama guru ngaji.
Di situlah kita belajar bukan hanya benar membaca, tetapi juga bagaimana membaca dengan tartil, bagaimana memahami ayat, dan bagaimana menggali pesan yang terkandung di dalamnya.
Rasulullah ﷺ juga memberikan gambaran luar biasa tentang majelis yang di dalamnya Al-Qur’an dibaca dan dipelajari bersama. Orang-orang yang berkumpul untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah akan mendapatkan ketenangan, rahmat, dikelilingi para malaikat, dan disebut oleh Allah di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim no. 2699)
Maka, kalau dua hal ini kita jalankan:
membaca dengan tartil dan belajar bersama guru untuk memahami serta menghayatinya, in syaa Allah Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan.
Ia akan benar-benar menjadi rahmat, syifaa’, hudan, mau‘izhah, dan furqaan dalam kehidupan kita.
Sebab Al-Qur’an bukan sekadar untuk dihabiskan bacaannya, tetapi untuk dihidupkan pesannya.
@pengajianalif
Pengajian Alif Depok
Portal pengajian, jadwal majelis, dan refleksi diri
Beranda- Refleksi dan Warta Kajian-Tentang-Redaksi
Redaksi
Layanan Informasi & Jadwal Kajian
WA 0817-6066-781
Depok, Indonesia
© 2026 Pengajian Alif -Mengaji Itu Mudah dan Menyenangkan.
MEMBANGUN MAJELIS & ILMU
