Belum juga hobi membaca, manusia sudah diserang gadget.
Belum juga merasakan nikmatnya beramal tanpa pamrih, berbagai platform media sosial sudah menawarkan personal branding.
Belum juga mencapai keasyikan membaca Al-Qur'an berlembar-lembar, video pendek yang menggoda telah mengajari jari untuk terus scrolling.
Belum juga terbiasa melangkah ke majelis taklim, YouTube memanjakan banyak orang belajar otodidak tanpa guru hingga merasa cukup dengan dirinya sendiri.
Belum juga suka bersilaturahim dari rumah ke rumah, video call menyediakan percakapan jarak jauh tanpa perlu berjumpa.
Belum juga belajar tersenyum kepada sesama saudara muslim, emotikon sudah mewakili ekspresi yang seharusnya lahir dari wajah dan hati.
Peradaban bergerak begitu cepat. Teknologi berkembang melampaui kecepatan pertumbuhan jiwa manusia. Kita memperoleh alat-alat yang luar biasa sebelum sempat membangun kebiasaan-kebiasaan yang seharusnya menopangnya.
Akibatnya, manusia modern sering memiliki banyak koneksi tetapi sedikit kedekatan.
Banyak informasi tetapi minim kebijaksanaan.
Banyak penonton tetapi sedikit sahabat.
Banyak konten agama tetapi sedikit ketundukan kepada Allah.
Di antara yang paling terdampak adalah keikhlasan.
Dahulu, seseorang membantu tetangganya dan mungkin hanya diketahui oleh beberapa orang. Ia bersedekah dan tidak ada kamera yang mengabadikan. Ia menolong orang lain lalu pulang tanpa dokumentasi.
Hari ini, bahkan sebelum sebuah amal selesai dilakukan, kamera sudah lebih dulu menyala.
Setiap kebaikan berpotensi menjadi unggahan.
Setiap bantuan berpotensi menjadi konten.
Setiap kegiatan sosial berpotensi menjadi personal branding.
Tentu tidak semua publikasi adalah riya'. Islam tidak pernah mengharamkan menampakkan amal jika tujuannya untuk mengajak dan memberi teladan. Namun di era digital, ujian terbesar bukan lagi bagaimana melakukan kebaikan, melainkan bagaimana menjaga hati ketika kebaikan itu dilihat banyak orang.
Kita hidup di zaman ketika algoritma memberi hadiah berupa perhatian. Like, komentar, tayangan, dan pengikut sering kali menjadi mata uang sosial yang sangat menggoda. Sedikit demi sedikit, orientasi amal dapat bergeser. Dari mencari ridha Allah menjadi mencari apresiasi manusia.
Di sinilah kisah Nicholas Winton terasa begitu relevan.
Pada tahun 1938, ia menyelamatkan 669 anak dari ancaman Nazi. Sebuah tindakan yang jika terjadi hari ini mungkin akan memenuhi media sosial, wawancara televisi, podcast, dan buku autobiografi.
Tetapi Nicholas Winton memilih diam.
Bukan lima hari.
Bukan lima bulan.
Melainkan lima puluh tahun.
Dunia baru mengetahui jasanya setelah sang istri menemukan catatan lama di loteng rumah mereka. Selama setengah abad, ia tidak menagih tepuk tangan, penghargaan, ataupun pengakuan.
Barangkali di situlah letak kemuliaan terbesar kisah tersebut.
Ia tidak hanya menyelamatkan ratusan nyawa, tetapi juga berhasil menyelamatkan amalnya dari dirinya sendiri.
Sebab musuh terbesar sebuah amal sering kali bukan kemalasan, melainkan ego.
Karena itu, pertanyaan penting bagi kita hari ini bukanlah: "Berapa banyak kebaikan yang sudah kita lakukan?"
Melainkan:
"Jika tidak ada yang melihat, apakah kita masih akan melakukannya?"
Jika jawabannya iya, maka di situlah benih-benih keikhlasan sedang tumbuh.
Di zaman ketika semua orang berlomba untuk terlihat, mungkin salah satu ibadah yang paling langka adalah melakukan kebaikan yang hanya diketahui oleh Allah.
Karena pada akhirnya, manusia boleh saja melupakan amal kita. Algoritma boleh saja berhenti menampilkan konten kita. Dunia boleh saja tidak mengenang nama kita.
Tetapi Allah tidak pernah lupa.
Dan bagi orang-orang yang ikhlas, itu sudah lebih dari cukup.
Depok, 20 Juni 2026 / 5 Muharram 1447H.
@pengajianalif
@prm.abadijaya
@kmmdkotadepok
#keikhlasan #renunganharian #tanpapamrih #algoritma #fyp
