Jangan Hanya Khatam, Hiduplah Bersama Al Qur'an
Keagungan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kesusastraan dan keindahan susunan bahasanya.
REFLEKSI DIRI
@irwan_hernanda
9/15/20262 min read


Keagungan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kesusastraan dan keindahan susunan bahasanya. Keagungannya juga tampak pada bagaimana ia menyampaikan pesan, perintah, larangan, nasihat, teguran, bahkan ancaman dengan uslub (gaya bahasa) yang begitu beragam. Kadang kala lembut dan santun. Kadang kala menyentuh, dan pada saat tertentu tegas.
Al-Qur’an seakan tahu kepada siapa ia sedang berbicara. Kepada hati yang sedang lemah, ia hadir sebagai penghibur. Kepada orang yang lupa, ia menjadi pengingat. Kepada orang yang keliru, ia menegur. Dan kepada mereka yang membangkang serta durhaka, ia memberikan peringatan yang keras.
Itulah salah satu keagungan Al-Qur’an
Ketika kita baca al Qur’an, kita kadang diingatkan. Itu harus karena manusia mudah lupa. Kadang kita perlu dijewer, karena seringnya sudah tahu tetapi masih saja melakukan kesalahan. Dan pada saat tertentu kita perlu dipecut, karena nasihat yang lembut kerap tak membuat kita tersadar dari kedurhakaan.
Namun semua itu, bagi seorang hamba yang mau tunduk, tetap merupakan bentuk kasih sayang Allah. Kita menerimanya sebagai makhluk yang lemah, mudah lalai, dan tidak pernah luput dari dosa.
Bahkan ada satu hal yang patut kita syukuri: teguran itu datang ketika kita masih berada di dunia, pintu taubat masih terbuka. Kesempatan memperbaiki diri masih tersedia. Istighfar masih bisa dipanjatkan. Amal saleh masih dapat dikerjakan. Rahmat dan ampunan Allah masih kita harapkan.
Lalu terlintas dalam pikiran:
Apa jadinya jika teguran itu baru datang di akhirat?
Di sana tidak ada lagi kesempatan untuk kembali.
Tidak ada lagi waktu untuk memperbaiki kesalahan.
Tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang kehidupan.
Maka teguran Al-Qur’an yang kita rasakan pedih hari ini sesungguhnya jauh lebih ringan daripada penyesalan yang mungkin datang ketika semuanya sudah terlambat.
Karena itu, membaca Al-Qur’an saja belum cukup.
Seseorang mungkin telah membaca Al-Qur’an berkali-kali, bahkan telah khatam berulang-ulang. Tetapi jika bacaannya tidak disertai tadabbur, ia mungkin hanya mengenal huruf dan suara tanpa benar-benar mengenal pesan yang sedang disampaikan Allah kepadanya.
Al-Qur’an tidak berhenti di telinga. Ia masuk ke hati, kemudian menjelma menjadi pikiran, sikap, dan perbuatan.
Ada ayat yang membuat seseorang menangis.
Ada ayat yang membuatnya terdiam dan termangu.
Ada ayat yang membuat dadanya bergetar.
Dan ada pula ayat yang seakan membangunkan seluruh energi dalam dirinya sehingga ia kembali bersemangat menjalani perjuangan hidup.
Semakin seseorang memahami Al-Qur’an, semakin ia menyadari bahwa masih begitu banyak kedalaman makna yang belum ia pahami.
Satu ayat yang sama dapat terasa berbeda ketika dibaca pada usia yang berbeda, dalam keadaan yang berbeda, dan setelah mengalami perjalanan kehidupan yang berbeda.
Dulu kita membaca sebuah ayat sebagai informasi.
Beberapa tahun kemudian kita membacanya sebagai nasihat. Pada suatu hari, ayat yang sama tiba-tiba terasa seperti sedang berbicara langsung kepada kita.
Di situlah kehausan terhadap Al-Qur’an tumbuh.
Kita tidak lagi membaca hanya karena ingin segera sampai pada halaman terakhir. Kita membaca karena ingin mengetahui:
Apa lagi yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui ayat ini?
Untuk sampai pada kedalaman itu tentu diperlukan proses. Seperti pendidikan dan bela diri, perjalanan bersama Al-Qur’an juga memiliki tingkatan. Tidak perlu malu memulai dari dasar.
Mulailah dengan menyukai bacaannya. Kemudian perbaiki tajwidnya, pahami kata-katanya, pelajari terjemahnya, tadabburi pesannya, lalu berusaha menghidupkannya dalam kehidupan.
Tidak perlu terburu-buru sebab hubungan dengan Al-Qur’an bukan perlombaan untuk segera sampai pada tingkat tertinggi. Ia adalah perjalanan seumur hidup untuk semakin dekat dengan firman Allah.
Semakin dalam kita menyelaminya, semakin luas lautan maknanya.
Maka jangan berhenti membaca, jangan berhenti belajar, dan jangan berhenti mencari makna.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang ingin kita khatamkan. Ia adalah petunjuk yang ingin kita hidupi.
Wallahu'alam...
Pengajian Alif Depok
Portal pengajian, jadwal majelis, dan refleksi diri
Beranda- Refleksi dan Warta Kajian-Tentang-Redaksi
Redaksi
Layanan Informasi & Jadwal Kajian
WA 0817-6066-781
Depok, Indonesia
© 2026 Pengajian Alif -Mengaji Itu Mudah dan Menyenangkan.
MEMBANGUN MAJELIS & ILMU
