

DATANGLAH DENGAN CINTA, PULANGLAH TANPA MEMBUKA AIB
ADAB & TRADISI
@irwan_hernanda
10/24/20262 min read
Ada kebiasaan buruk sebagian orang ketika bertamu ke rumah orang lain. Begitu memasuki rumah dan mendapati debu di mana-mana, ruangan berantakan, atau keadaan yang kurang rapi, seketika raut wajahnya berubah. Senyumnya menghilang, gesturnya menunjukkan ketidaksukaan, bahkan terkadang terlontar keluhan yang membuat tuan rumah merasa malu dan tidak nyaman. Padahal, tujuan bertamu bukanlah memeriksa kebersihan rumah, menilai kerapian perabot, atau mengukur kemampuan ekonomi tuan rumah. Kita datang untuk menyambung silaturahim, melepas rindu, mempererat persaudaraan, dan merawat kasih sayang yang mungkin lama tak terungkapkan.
Bisa jadi, rumah yang kita anggap berantakan itu dihuni seseorang yang sedang berjuang menghadapi kesulitan hidup. Bisa jadi, tuan rumah sedang kelelahan, sakit, atau memiliki tanggung jawab yang tidak kita ketahui. Tidak semua orang mempunyai waktu, tenaga, dan kemampuan yang sama untuk menjaga rumahnya tetap rapi.
Allah mengingatkan kita agar tidak merendahkan orang lain:
“Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka yang merendahkan.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11).
Ayat ini memang berbicara tentang larangan saling merendahkan, bukan khusus tentang kebersihan rumah. Namun, pesannya sangat relevan: jangan merasa lebih mulia hanya karena keadaan hidup kita tampak lebih baik daripada keadaan orang lain.
Silaturahim adalah amalan mulia. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung silaturahim (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, jangan sampai niat baik itu dicampuri kesombongan dan kebiasaan merendahkan orang lain. Datanglah ke rumah seseorang sebagai orang yang buta dan tuli. Pulanglah sebagai orang yang bisu.
Ini adalah ungkapan nasihat tentang adab, bukan hadis Nabi. Maksudnya, jangan sibuk mencari kekurangan, jangan mudah menghakimi, dan jangan menceritakan aib tuan rumah setelah pulang.
Allah berfirman,
“Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12).
Dalam tradisi tasawuf, kita diajarkan melakukan muhasabah: memeriksa kekurangan diri sebelum sibuk menilai orang lain.
Maka, sebelum mengkritik rumah seseorang, periksalah hati sendiri. Apakah kita datang untuk menyambung persaudaraan atau justru merasa lebih mulia?
Adab bertamu bukan hanya tentang bagaimana kita memasuki rumah orang lain, tetapi juga bagaimana kita menjaga kehormatannya setelah meninggalkannya.
Datanglah dengan cinta. Pulanglah tanpa membuka aib.
Wallahu'alam...
Depok, 24 Oktober 2026 / 13 Jumadil Awwal 1448 H
@pengajianalif
Info Ngaji Online & Offline:
#adabMuslim #bertamu #refleksiKehidupan #silaturahim #fyi
Pengajian Alif Depok
Portal pengajian, jadwal majelis, dan refleksi diri
Beranda- Refleksi dan Warta Kajian-Tentang-Redaksi
Redaksi
Layanan Informasi & Jadwal Kajian
WA 0817-6066-781
Depok, Indonesia
© 2026 Pengajian Alif -Mengaji Itu Mudah dan Menyenangkan.
MEMBANGUN MAJELIS & ILMU
