Budaya Gratis dalam Menuntut Ilmu
Benar adanya. Di balik setiap kelas yang disebut gratis, tetap ada biaya yang dibayar.
REFLEKSI DIRI
@irwan_hernanda
7/24/20262 min read


Ada satu kata yang sangat disukai masyarakat modern: gratis.
Kata itu memiliki daya tarik yang luar biasa. Apa pun yang ditempeli label gratis hampir selalu lebih cepat menarik perhatian dibandingkan kualitas isi yang ditawarkan.
Fenomena ini mungkin wajar dalam dunia perdagangan. Namun ketika logika yang sama dibawa ke dunia pendidikan, terlebih pendidikan Islam. Muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: apakah ilmu pantas dipromosikan dengan kata "gratis"?
Beberapa waktu lalu, seorang dosen pernah berkata kepada saya, "Sebenarnya tidak ada yang gratis di dunia ini, kecuali pemberian Allah." Kalimat sederhana itu mengubah cara pandang saya.
Benar adanya. Di balik setiap kelas yang disebut gratis, tetap ada biaya yang dibayar. Ada listrik yang menyala, ruangan yang digunakan, modul yang dicetak, dan waktu yang dikorbankan. Hanya saja, peserta tidak membayar secara langsung.
Selalu ada tangan-tangan lain yang memikul beban itu.
Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya biaya.
Persoalannya adalah cara kita memandang ilmu.
Label gratis perlahan dapat menggeser makna. Sesuatu yang semula mulia berubah menjadi sesuatu yang terasa biasa. Tidak sedikit orang akhirnya lebih mudah menunda hadir, datang terlambat, bahkan meninggalkan majelis ilmu tanpa beban. Seolah tidak ada yang hilang karena toh semuanya "gratis".
Padahal para ulama terdahulu justru memuliakan ilmu dengan pengorbanan. Mereka menempuh perjalanan jauh, menghabiskan harta, bahkan mengorbankan kenyamanan demi memperoleh satu pelajaran. Bukan karena ilmu harus diperjualbelikan, melainkan karena mereka memahami bahwa adab terhadap ilmu dimulai dari cara kita menghargainya.
Karena itulah saya lebih menyukai istilah Infak Terbaik daripada Gratis. Bukan untuk membatasi orang belajar, melainkan untuk menjaga kemuliaan ilmu sekaligus membuka ruang partisipasi. Yang ekonominya terbatas tetap dapat belajar dengan tenang, sementara yang Allah lapangkan rezekinya dapat ikut menjaga majelis ilmu tetap hidup.
Mungkin yang perlu kita gratiskan bukanlah ilmunya, melainkan akses menuju ilmu. Sebab ilmu selalu bernilai tinggi, sementara akses terhadap ilmu harus dapat dirasakan oleh siapa saja.
Di situlah pendidikan Islam menemukan keindahannya. Tidak dibangun oleh transaksi, tetapi oleh ta'awun. Ada yang mengajar, ada yang belajar, ada yang berinfak, dan semuanya dipertemukan dalam satu tujuan: menjaga cahaya ilmu agar terus menyala.
Mungkin memang tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini.
Tetapi selalu ada orang-orang yang dengan ikhlas memilih membayar, agar orang lain tetap dapat belajar.
Wallahu'alam...
Depok, 24 Juli 2026 / 10 Safar 1448H
@irwan_hernanda
@pengajianalif @prm.abadijaya @kmmdkotadepok
#gratis #belajarIslam #pendidikanIslam #beayaPendidikan
#refleksiSosial #fyp
Pengajian Alif Depok
Portal pengajian, jadwal majelis, dan refleksi diri
Beranda- Refleksi dan Warta Kajian-Tentang-Redaksi
Redaksi
Layanan Informasi & Jadwal Kajian
WA 0817-6066-781
Depok, Indonesia
© 2026 Pengajian Alif -Mengaji Itu Mudah dan Menyenangkan.
MEMBANGUN MAJELIS & ILMU
